Showing posts with label confusion?. Show all posts
Showing posts with label confusion?. Show all posts

Saturday, November 7, 2015

Seribu alasan

Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamualaikum dan hi semua!

Again setelah lama menyepi. Terasa nak post satu benda buat ingatan pada diri. Jumpa ni tadi waktu tengah belek2 file dalam laptop untuk disusun.


Tengok dari tarikh file ni disimpan, aku rancang angan-angan ni tahun 2012. 3 years back. Zaman muda yang penuh semangat dan penuh cita2. Makin meningkat umur ni rasa makin deteriorate semangat tu.

Bila tengok, rasa mcm aku just on the track.  Just nice. Tahun depan Insyaallah habis master.. tapi rumah tu mcm tak dpt je. 2017 sambung phd kat overseas. Dasyat. Sekarang ni rasa nak sambung dlm Malaysia pun fikir beribu kali. Entahlah.

Memang dalam otak sekarang ni ada 2 main concerns. Study. Family. Kadang2 tak tau nak cari titik penyatuan. Mama setiap kali call gaya mcm nak suruh keje je. Aku pula dalam dilemma nak teruskan bidang ni ke tak. Takut, tak yakin dan beberapa internal dan external factor buat aku rasa nak cenderong ke cadangan mama sebagai alasan untuk lari kejap dari apa yang aku buat sekarang. Hmm entahlah.. moga Allah tolong aku buat keputusan yang terbaik lepas master ni. Ohh kahwin pun dalam concern aku sekarang ni. Ni pun tak nampak lagi macam mana nak harmonikan dengan 2 main concerns kat atas ni.

Kita punya seribu alasan untuk lari dan seribu sebab untuk berjaya kan?Lalu kenapa kita asyik bagi alasan untuk menggagalkan diri kita? Huh.. persoalan ni sangat berat untuk aku jawab.

Ok. Bye. Caucincau!

Wassalam.

Thursday, October 22, 2009

Antara bersin dan menguap?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’alaa anhu, Rasulullah bersabda, :

“Sungguh Allah mencintai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap, maka jika kalian bersin maka pujilah Allah, maka setiap orang yang mendengar pujian itu untuk menjawabnya; adapun menguap, maka itu dari syaitan, maka lawanlah itu sekuat tenagamu. Dan apabila seseorang menguap dan terdengar bunyi: Aaaa, maka syaitan pun tertawa karenanya”. (Shahih Bukhari, 6223)

Imam Ibn Hajar berkata:

“Imam Al-Khathabi mengatakan bahwa makna cinta dan benci pada hadits di atas dikembalikan kepada sebab yang termaktub dalam hadits itu. Yaitu bahwa bersin terjadi karena badan yang kering dan pori-pori kulit terbuka, dan tidak tercapainya rasa kenyang.

Ini berbeda dengan orang yang menguap. Menguap terjadi karena badan yang kekenyangan, dan badan terasa berat untuk beraktivitas, hal ini karena banyaknya makan . Bersin bisa menggerakkan orang untuk bisa beribadah, sedangkan menguap menjadikan orang itu malas (Fath-hul Baari: 10/6077)

Nabi menjelaskan bagaimana seseorang yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah agar membalas pujian tersebut.

Rasulullah bersabda:

"Apabila salah seorang diantara kalian bersin, maka ucapkanlah Al-Hamdulillah, dan hendaklah orang yang mendengarnya menjawab dengan Yarhamukallahu, dan bila dijawab demikian, maka balaslah dengan ucapan Yahdikumullahu wa Yushlihubaalakum "(HR. Bukhari, 6224)

Dan para doktor di zaman sekarang mengatakan, “Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh.

Dan hal ini terjadi ketika kita sedang mengantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian. Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut, dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam !!!

Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menapis udara seperti hidung.

Maka, apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai-bagai jenis mikroba, kuman dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh.

Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan “menguap” ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri.

Bersin adalah lawan dari menguap yaitu keluarnya udara dengan keras, kuat disertai hentakan melalui dua lubang: hidung dan mulut. Maka akan terkuras dari badan bersamaan dengan bersin ini sejumlah hal seperti debu, haba’ (sesuatu yang sangat kecil, di udara, yang hanya terlihat ketika ada sinar matahari), atau kutu, atau mikroba yang terkadang masuk ke dalam organ pernafasan.

Oleh karena itu, secara tabiat, bersin datang dari Yang Maha Rahman (Pengasih), sebab padanya terdapat manfaat yang besar bagi tubuh. Dan menguap datang dari syaithan sebab ia mendatangkan bahaya bagi tubuh.

Dan atas setiap orang hendaklah memuji Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi ketika dia bersin, dan agar meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ketika sedang menguap. (Lihat Al-Haqa’iq Al-Thabiyah fii Al-Islam: hal 155).

Dibaca dari:iLuvIslam
Bersumberkan:http://wishbeukhti.wordpress.com/

Tuesday, October 6, 2009

Cintaku..cinta monyet

“Malam esok kita keluar ya. Kita dinner dekat Danga Bay macam selalu. Tapi awak yang kena belanja saya sebab minggu lepas saya belanja…” lemah-gemalai suara Safura.

“Along, dah tengah malam ni. Asyik bergayut saja 24 jam. Ibu tak suka anak ibu berbual lama-lama dengan lelaki bukan muhrimnya. Kan berdosa tu.” Nasihat si ibu kepada anaknya.

“Ala bu..tu si Ahmad lah. Ibukan kenal orangnya. Kita orang memang baik sejak sekolah menengah dulu.” Jawab Safura.

“Lagipun dia tu kawan Along je lah, kami bukannya bercouple. Dia tak pernah declare apa-apa kat Along. Kami cuma baik saja. Itupun salah ke?”

Manusia, memang bijak membuat justifikasi. Pemikiran kreatif seorang manusia, bijak sekali mencari ruang-ruang di celah hukum untuk mengharuskan perlakuan mereka. Niat yang baik tak menghalalkan perkara yang haram.


‘KEBIJAKAN’ BANI ISRAEL DAN TANGKAPAN IKAN SABTU

Seperti gelagat Bani Israel yang diharamkan bekerja menangkap ikan pada hari Sabtu. Tujuannya ialah supaya hari itu didedikasikan sepenuhnya kepada ibadah khusus mereka kepada Allah.

Namun kaum yang bijak ini, pantas bermain helah. Kreativiti minda mereka digunakan untuk memasang perangkap dan jaring supaya ikan-ikan itu tersangkut dengan sendiri tanpa mereka sendiri melakukannya dengan tangan. Justeru bolehlah dihujahkan dengan bijak kepada Allah bahawa mereka tidak menangkap ikan, sebaliknya ikan itu yang tertangkap sendiri, dan halal benarlah perbuatan itu bagi mereka.

“Salah ikan, bukan salah kami!” barangkali begitulah helah mereka.

Mereka membelok hujah ke sana sini untuk menyedapkan hati sendiri. Apabila akal fikiran yang dikurniakan Allah digunakan untuk menipu Allah, turunlah darjat manusia kepada kerendahan yang hina. Akal dikurniakan Allah kepada manusia agar dengan akal itu manusia tunduk mentaati-Nya, bukan berputar belit mencipta alasan menipu Dia. Akal yang digunakan untuk menipu Tuhan, adalah sebuah kehinaan terhadap kejadian manusia.

“Asfala saafileen,” kata al-Quran.

Justeru mereka beralih kejadian, dihukum Allah menjadi makhluk yang lebih sepadan dengan kerendahan itu:

“Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui (bagaimana buruknya akibat) orang-orang di antara kamu yang melanggar (larangan) pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina!” [al-Baqarah 2: 65]

Inilah TEORI EVOLUSI CINTA. Bermula dengan sebaik-baik kejadian, mereka bermain cinta murahan beralaskan akal dan hujah-hujahnya. Dengan cinta sehina itu, manusia beransur-ansur turun sifat kemanusiaannya. Hilang malu yang menjadi benteng iman. Akhirnya menjadi kera.

Kera itulah barangkali yang terkinjal-kinjal dilamun cinta monyet terkena sumpahan Allah ke atas kaum yang mensesiakan akal kurniaan Tuhan untuk menipu Tuhan.

Bagaimana hal ini boleh berlaku??

Inilah yang gagal difahami oleh kaum yang bijak pandai ini. Mereka berdolak dalih tentang alasan-alasan sosial serta masalah awam, serta tidak segan silu mencari pula hujah-hujah yang berkonotasi agama untuk menolak keperluan batas-batas pergaulan .

Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’aala memerintahkan kita menjaga batas ini, adalah untuk mengawal sesuatu yang manusia lemah terhadapnya.

Iaitulah soal HATI!
Ya, siapakah yang lebih kenal akan soal hati selain Dia?
Dia yang menggelarkan hati kita sebagai QALB, iaitu sesuatu yang berbolak balik. Sesungguhnya dengan segala unsur bijak yang ada di minda, kita terlupa bahawa Allah mahu menyelamatkan kesucian HATI, yang tidak mampu ditanggung logik. Akal kita dengan ilmu di puncak menara gading mana sekali pun, tidaklah kuat untuk mengawal hati. Akal itu menteri, rajanya adalah hati. Sering sahaja raja yang berkuasa itu berpaling tadah dari akal kepada NAFSU.

Jangan nanti disumpah Allah cinta itu menjadi cinta kera, kaum yang dihina Allah kerana terlalu bijak cuba melicik Dia.

Kamu BIJAK SINI, tetapi Allah itu BIJAK SANA. Maha Bijaksana!